Copyright 2017 - Custom text here

Seandainya AURI Melawan Maka Banjir Darah Tak Terelakan

OMAR DANI lahir 23 Januari 1924 di Surakarta dari keluarga ningrat terpelajar yang menjadi pejabat di birokrasi pemerintahan. Lingkungan itu pula yang mendidiknya agar merdeka serta menjunjung martabat dan penuh rasa tanggung jawab. 

Sejak kecil dia sudah mengagumi Bung Karno. Juli 1950 Angkatan Udara membuka pendaftaran bagi pemuda Indonesia untuk dididik sebagai penerbang/navigator. Kesempatan itu tidak disia-siakan Omar Dani yang waktu itu berusia 26 tahun.


Pada November 1950, 60 penerbang kadet AURI, termasuk Omar Dani, dikirim untuk belajar di Academy of Aeronautics, TALOA (Trans Ocean Airline Oakland Airport) di California, AS. Bulan November 1951, Omar Dani berhasil menyelesaikan pendidikan lalu kembali ke Tanah Air dan dilantik sebagai letnan muda udara I (sekarang peltu) pada akhir Juli 1952 dan bertugas sebagai kopilot Dakota di Pangkalan Udara Cililitan. Kariernya melesat pesat.
 
Dalam waktu hanya 9,5 tahun dia mencapai posisi puncak di Angkatan Udara. Belum genap berusia 38 tahun, Omar Dani dilantik sebagai Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara tanggal 19 Januari 1962. Sebelum tahun 1965 AURI merupakan salah satu angkatan udara terkuat di kawasan Asia Tenggara, bahkan di Asia. Angkatan Udara yang dipimpin oleh Laksamana Omar Dani sangat loyal terhadap Soekarno.   
 
Mereka mendukung gerakan Ganyang Malaysia yang dilancarkan pemerintah Soekarno. Namun pihak Angkatan Darat, dalam hal ini Soeharto, tidak mendukung kebijakan itu dengan sepenuh hati. Tanggal 30 September 1965 meletus aksi penculikan para jenderal. Omar Dani dengan spontan menulis Perintah Harian Men/Pangau setelah mendengar siaran berita RRI pukul 7.00 WIB tentang G30S.
 

 
Perintah harian itu kemudian menjadi persoalan besar di mata kelompok Soeharto. Pada 1 Oktober 1965 Soeharto menyampaikan pidato radio (Pengumuman No 022/Peng/PUS/1965) yang memojokkan AURI.“Antara AD, ALRI, dan AKRI telah terdapat saling pengertian, kerja sama, dan kebulatan tekad penuh untuk menumpas perbuatan kontra-revolusioner yang dilakukan oleh apa yang menamakan dirinya ‘Gerakan 30 September’.”

Tanggal 6 Oktober 1965 Presiden mengadakan sidang paripurna kabinet di Istana Bogor. Ketika itu Omar Dani merasa bahwa dia dijauhi oleh beberapa rekannya sesama menteri. Mayjen Pranoto Reksosamudro yang hadir sebagai caretaker Men/Pangad mengatakan bahwa Jenderal Soeharto tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Saat itu Omar Dani merasa yakin bahwa konflik antara mereka memang sudah frontal.

Tidak lama kemudian, AURI menjadi bulan-bulanan. Mobil Laksda Aburachmat, mobil Letnan Udara Satu Wara Chusnul Chotimah, dan lain-lain ditabrak oleh jip-jip RPKAD. Ibu-ibu istri anggota AURI yang berbelanja di pasar di luar Halim diejek, juga pasukan karbol yang berdiri di pinggir jalan dalam sikap sempurna dan memberi hormat pada iring-iringan jenazah para jenderal korban G30S diludahi mukanya oleh pasukan AD yang berada di atas panser.
 
Tanggal 8 Oktober 1965 Soeharto ke Istana Bogor. Soekarno tampaknya enggan berbicara dengan Soeharto. Dia hanya diterima oleh Subandrio, dan dalam beberapa literatur seakan-akan ada deal antara Subandrio dengan Soeharto. Bung Karno diperbolehkan pulang ke Istana Merdeka, Jakarta. Adapun Soeharto akan dikukuhkan menjadi Men/Pangad dengan pangkat Letnan Jenderal.

Perintah harian yang pernah dikeluarkan Omar Dani 1 Oktober 1965 itu dinilai oleh Soekarno sendiri “te voor barig” (terlalu tergesagesa). Namun perintah itu dianggap oleh kelompok Soeharto sebagai bukti keterlibatan Omar Dani dalam mendukung G30S. Bila Presiden Soekarno tidak bertindak tegas terhadap Men/Pangau mungkin beliau sendiri akan terganjal kedudukannya.

Omar Dani mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden Soekarno, tapi ditolak. Sebagai jalan keluarnya, tanggal 14 Oktober 1965 Bung Karno menugasi Men/Pangau melakukan perlawatan ke negara-negara Eropa dan Asia dalam rangka menjajaki kerja sama luar negeri dengan AURI. Semula direncanakan berangkat tanggal 19 Oktober 1965, tapi Soeharto meminta ditunda satu hari karena dia akan ikut melepas keberangkatan tersebut.
 

Namun ternyata penundaan itu sebetulnya tidak perlu. Esok harinya Soeharto ternyata juga tidak datang. Omar Dani berangkat dengan anak-anak dan istrinya yang sedang hamil 7,5 bulan (mengandung putra kelima) menuju Phnom Penh. Selama 6 bulan kurang 3 hari, Omar Dani di luar negeri. Dia sebetulnya dapat saja terus berada di mancanegara dengan memanfaatkan keahlian sebagai pilot misalnya.

Namun dari Phnom Penh dia rela pulang ke Jakarta demi “memenuhi tanggung jawab”, demikian pengakuannya. Dengan pesawat Hercules C- 130 milik AURI, tanggal 20 April 1966 Omar Dani sekeluarga kembali ke Indonesia, mendarat di Semplak, Bogor dan langsung ditempatkan di bungalo AURI di Cibogo dengan status “tidak boleh keluar dari sana”.

Dalam situasi seperti itu, bila malam tiba, Omar Dani berbincang-bincang dengan ayahnya yang sebelumnya sudah di-”konsinyir” di sana, tentang hidup, kematian, tentang manusia, tentang Tuhan, dan alam semesta. Suasana sekitar yang sejuk dan senyap itu membawa mereka larut berdiskusi kadang-kadang sampai dini hari.

Tanggal 23 Oktober 1966 Omar Dani dipindahkan ke Rumah Tahanan Nirbaya yang letaknya sekitar 800 meter di sebelah selatan Asrama Haji Pondok Gede. Dalam perjalanan Omar Dani bertanya kepada Letkol CPM Nicklany yang menjemputnya, “Nick, nanti kira-kira vonis apa ya?”Jawab Nicklany, “Verwacht maar het ergste” (harapkanlah yang terburuk). Omar Dani menukas “Hukuman mati ya?” Nicklany menjawab, “Ya”.

Omar Dani tidak terlalu kaget mendengar hal itu. Ia menyadari bahwa semuanya itu bukanlah persoalan hukum, tapi persoalan politik semata. Omar Dani hanya bisa berserah diri kepada Allah Yang Maha Adil. Bertepatan dengan Hari Natal 25 Desember 1966 yang juga jatuh pada bulan suci Ramadan, Omar Dani dijatuhi hukuman mati. Maka dimulailah kehidupan di penjara yang teramat panjang.
 
Tahun 1980 hukumannya diubah menjadi seumur hidup. Akhirnya tanggal 16 Agustus 1995 dia dibebaskan bersama-sama dengan Dr Soebandrio dan mantan Kepala Badan Pusat Intelijen Sugeng Soetarto. Apakah seorang pemimpin dapat dihukum karena dia mengatakan “bertanggung jawab atas kesalahan-kesalahan para anak buahnya?”

Mungkin pula itu dianggap sebagai kesalahan tidak berampun oleh majelis hakim karena Omar Dani ––seperti halnya Bung Karno–– tidak mau mengutuk PKI dalam persidangan. Padahal saat itu opini publik sudah terbentuk bahwa PKI adalah kambing hitam dari segalanya. Omar Dani secara tegas mendukung Nasakom yang merupakan ajaran Bung Karno. Omar Dani adalah pelaksana kebijakan Presiden Soekarno.

Salahkah dia bila menjalankan tugas dan kewajibannya dengan sepenuh hati? Ketika pemerintahan lama itu digerogoti dan kemudian tumbang, tinggallah Omar Dani sebagai korban dari pergantian rezim politik.(*) (Sumber: Koran Sindo, 16 June 2009).

 

Get Adobe Flash player

Live Currency


The Forex Quotes are powered by Investing.com.

Social Media

Pengunjung

Flag Counter
DMCA.com Protection Status ||
f t g m